To be continued….
Applikasi QR Code Pada Objek Wisata Sejarah Di Indonesia Untuk Meningkatkan Pengetahuan Wisatawan
Mei 24, 2011
Computer Science, Sebaiknya Kamu Tahu postaday2011, QR Code 2 Komentar
1. Pendahuluan
Seiring dengan internet mobile dan peralatan mobile yang terdapat beberapa fungsi tambahan, layanan mobile menjadi semakin penting (Henseler 2009). Meningkatnya penggunaan layanan mobile diakibatkan oleh ditemukan peralatan mobile yang canggih. Namun, masih terdapat keterbatasan terutama dalam kecepatan dan kenyamanan penggunaan layanan. Mobile tagging menawarkan kesempatan seperti kemudahan akses dengan tautan layanan mobile kepada objek sebenarnya dengan menggunakan 2D kode. QR kode sebagai bentuk yang spesifik dari sebuah kode mobile dengan menawarkan solusi yang menghubungkan konten fisik dengan konten virtual untuk menyediakan user dengan informasi tambahan atau memperbolehkan akses ke layanan mobile. Indonesia merupakan negara yang mengandalkan bidang pariwisata untuk meningkatkan devisa. Lokasi pariwisata Indonesia yang tersebar dan kebanyakan mengandung unsur budaya dan sejarah yang beragam sangat unik untuk dipejari dan diketahui. QR code di dalam bidang pariwisata menawarkan informasi layanan dari sebuah objek pariwisata seperti di tempatkan pada brosur, layanan online, papan informasi, hotel, makanan, dan informasi lainya.
2. QR Code dan Mobile Tagging
Hingga saat ini, simbol yang dapat dibaca oleh mesin adalah bar kode 1D. Tetapi terdapat keterbatasan terkait dengan jumlah informasi yang dapat disimpan dalam simbol dan kemampuan untuk mengoreksi kesalahan. Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, digunakanlah simbol 2D yang mempunyai banyak keuntungan seperti (1) dapat berisi beberapa ribu karakter yang menunjukan file portable yang menunjukan informasi. (2) jika informasi yang disimpan sedikit, maka ukuran simbol 2D akan kecil melebihi simbol 1D pada umumnya. (3) memiliki deteksidan pembenahan error pada struktur sehingga meningkatkan reability dan tingkat identifikasi.
Gambar 1. QR Code dengan berbagai informasi yang tersimpan
QR Code dikembangkan oleh Denso Wave Incorporated pada tahun 2004 dan distrandarisasi melalui berbagai badan internasional seperti AIM International, JIS, JAMA, ISO, standar nasional china dan korea, dan lainya. Kapasitas data yang terdapat pada QR code terdantung dari tipe data yang digunakan mulai dari 2531 karakter (8 bit) dan 7098 karakter (data numeric). Struktur QR Code dapat dilihat pada gambar 2 yang terdiri dari reserved area untuk deteksi posisi, alignment, timing, version dan format untuk area data.
Gambar 2. Struktur QR Code
QR code dapat dibuat dengan kode generator yang telah memenuhi standard di decode dengan scanner, CCD atau peralatan mobile yang terdapat sebuah kamera untuk pembacaan kode dan software decode untuk menginterpretasikan informasi yang terkandung didalam kode. Mobile tagging adalah teknik untuk membuat sebuah hubungan dengan menggunakan kode dua dimensi(mobile code). Dengan mengkombinasikan peralatan mobil pada umumnya untuk pengenalan kode. QR code juga mengandung data yang secara langsung atau berkoneksi pada data online. Setelah kode di scan, informasi yang terkandung di dalam simbol seperti sms atau emails, informasi kontak, nomor handphone atau hyperlink kepada data online dapat digunakan oleh peralatan mobile.
3. Pembuatan Applikasi Pembaca QR Code
Layout kode tampak pada gambar 3 yang terdiri dati garis (bar) dengan ukuran besar dan kecil untuk mengetahui lokasi dan orientasi kode. Tiga buah tanda pojok untuk mendeteksi distorsi, dan area data yang mengandung kode bit sebenarnya. Gambar 3 pada sisi kanan menujukan koordinat kode.
Gambar 3. Komponen kode visual (kiri) dan Sistem koordinat kode (kanan)
Kode dapat dibaca walaupun dalam kondisi kualitas rendah, ketika gambar berukuran kecil. Berikut ini algoritma yang digunakan untuk membaca QR code :
1. Koreksi distorsi kamera
Gambar yang diperoleh dari kamera terdapat beberapa gangguan sehingga harus dilakukan penghalusan dan penajaman.
2. Grayscaling dan Adaptive Thresholding
Sebuah metode adaptive digunakan untuk menghasilkan gambar hitam putih, karena kode yang dihasilkan kemungkinan terdapat illuminasi yang aneh
3. Identifikasi Tepi
Langkah ini bertujuan agar menemukan daerah tetangga yang memiliki pixels hitam, kemudian dihitung dan dicatat.
4. Pembetukan daerah dan orientasi
Dengan tujuan untuk mengidentifikasi bar orientasi diantara daerah yang ditemukan, notasi moment ordo kedua digunakan. Dari moment ini, maka sumbu major dan minum dari setiap daerah ditentukan.
5. Menempatkan kode
Menempatkan kode didalam gambar dilakukan dengan melihat garis bantu kandidat dan menemukan daerah pojok yang cocok. Untuk setiap kandidat ini, ukuran dan orientasi dari daerah digunakan untuk memperkirakan posisi yang diharapkan dari garis bantu dan daerah pojok
6. Mapping antara kode dan koordinat gambar
Untuk membaca bit dari kode, posisi gambar harus dipastikan. Karena elemen kode dalam bentuk copnalas, terdapat homografi yang unik (proyeksi transformasi matrix) antara bidang kode dan bidang gambar. Dilakukan proyeksi mapping dan dapat dihitung kedalam empat titik yang ditentukan.
7. Deteksi Error.
Kode bit yang dihasilkan dari proses pembacaan di enkrip dengan sebuah (83,76,3) kode linier hamming distance three yang melakukan encode 76 bit data kedalam 83 bit codeword. Kemudian kode di dekrip dan dapat dibaca
Gambar 4. Proses Pembacaan QR Code
4. Framework Applikasi
Gambar 5. Framework Applikasi QR Code
Framework applikasi dapat dilihat pada gambar 4. QR code dapat diintegrasikan kedalam berbagai arsitektur sistem tergantung dari layanan yang digunakan. Peran QR kode adalah untuk menyediakan informasi tambahan dengan melakukan tag pada objek nyata (real-life) dan bahan materi sebagai tanda untuk identifikasi dan autorisasi.
Informasi tambahan yang disediakan melalui QR Code dapat direalisasikan kedalam beberapa hal :
1. Static text yang secara langsung diencode ke dalam bentuk QR code dan dapat diakses tanpa koneksi internet.
2. Link untuk mendownload informasi dengan berbagai format seperti PDF, gambar, Video, dan lain sebagainya. Membutuhkan koneksi internet dan applikasi viewer melalui mobile.
3. Link kepada website. Informasi yang lebih detaul dapat disediakan dan diambil melalui mobile internet atau menyimpan web site offline melalui bookmark
4. VCard (format kontak elektronik) untuk membuat daftar kontak seperti nama, alamat, nomor telepon, email, dan informasi web site. QR code dapat berisi informasi VCard secara langsung atau link melalui alamat internet untuk diunduh.
Dengan menyediakan QR code untuk user sebagai tanda identifikasi dan autorisasi dapat dilakukan dengan cara berikut ini :
1. Mentranfer QR kode sebagai sebuah gambar melalui MMS (Multimedia Message Service). Teknik ini membutuhkan user untuk memasukan nomor handphone pribadi.
2. Mendownload QR code sebagai sebuah gambar dari website pribadi. Mengakses QR code membutuhkan koneksi internet.
5. Skenario Aplikasi
Indonesia kaya akan objek wisata bersejarah yang banyak dikunjungi oleh wisatawan local maupun internasional seperti candi Borobudur, prambanan, keratin Surakarta, ziarah makam, dan lain sebagainya. Tidak jarang pula wisatawan membawa kamera untuk berfoto. Namun para wisatawan hanya melihat-lihat saja benda peninggalan dan sedikit yang mencatat mengenai keterangan tempat sejarah. Dengan menggunakan QR code yang dipasang didalam papan keterangan situs bersejarah diharapkan wisatawan dapat mengambil informasi mengenai benda-benda maupun sejarah.
Skenario yang dapat dilakukan adalah
1. Periklanan dengan konsep promosi event, hotel, restaurant
Di lingkungan sekitar objek wisata bersejarah terdapat hotel, penginapan dan restaurant. Akan sangat menguntungkan apabila hotel, penginapan restaurant tersebut memasukan QR code untuk media promosi dan bagi objek wisata apabila ada event tertentu, dapat dibuat QR code untuk setiap event. QR code yang diimplementasikan dengan memberikan informasi atau tautuan ke informasi online.
Gambar 6. QR Code dalam event dan promosi
2. Memperkaya produk, souvenir, cinderamata dengan memberikan informasi produk
Souvenir, produk, dan cinderamata merapakan bagian yang tak terpisahkan dari objek wisata bersejarah seperti replika tempat bersejarah, hiasan dan lain sebagainya. Dengan menggunakan QR Code, yang ditambahkan label produk, akan menawarkan informasi tambahan kepada pengunjung dengan menghubungkan objek fisik dengan informasi digital dan layanan digital. Skenario yang mungkin adalah
1. Cross-selling. QR code mengandung sebuah tautan yang secara langsung menawarkan pilihan lain dari produk yang dijual. Secara umum, QR Code mengandunk tautan secara langsung kepada toko yang membuat / yang menjualnya.
2. Informasi Tambahan. Terutama untuk produk yang mempunyai hubungan sejarah, informasi tambahan dapat dimasukan dalam QR code ke dalam produk label atau Produk-produk yang ditawarkan pun dapat diberi QR Code sebagai media promosi.
Gambar 7. QR Code dalam produk, souvenir, dan cinderamata
3. Memperkaya Informasi pada objek wisata, pengetahuan sejarah, budaya, dan lokasi terkait
QR Code membantu para pengunjung dalam penyediaan informasi selama waktu kunjungan atau merencanakan kunjungan dengan cara :
1. Di Rumah
Ketika merencanakan untuk melakukan kunjungan ke objek wisata, user mendapatkan informasi objek wisata tersebut seperti web site objek wisata, termasuk alamat dan kontak yang dapat dihubungi, waktu buka dan harga.
2. Di tempat wisata
Pada lokasi objek wisata bersejarah QR code digunakan untuk menyediakan informasi tambahan. Informasi dapat disimpan dapat dilihat secara offline (secara langsung dimasukan ke dalam QR Code) atau online dalam bentuk multimedia seperti suara, video melalui internet. Jika dibandingkan dengan papan informasi pada umumnya, QR code membutuhkan tempat yang lebih sedikit dan informasi tersebut dapat diupdate.
Gambar 8. QR Code dalam objek wisata
6. Kesimpulan dan Saran
Penerapan QR Code untuk objek wisata sejarah di Indonesia merupakan hal yang baru. QR code dapat diterapkan dengan memberikan informasi tambahan dalam Periklanan dengan konsep promosi event, hotel, restaurant, Memperkaya produk, souvenir, cinderamata dengan memberikan informasi produk, Memperkaya Informasi pada objek wisata, pengetahuan sejarah, budaya, dan lokasi terkait. QR Code pada kelanjutanya dapat dibuat untuk proses pemesanan tiket secara online pada objek wisata dan diterapkan dalam berbagai objek wisata.
7. Daftar Pustaka
[1] A COMMON IMAGE PROCESSING FRAMEWORK FOR 2D BARCODE READING. E.Ottaviani, A.Pavan. M.Bottaz/i, E.Brunclli, F.Casclli, M.Guerre1.o, Elsag S.p.A. Italy ~ Datalogic S.p.A. Italy
[2] Application of QR Codes in Online Travel Distribution Michael Canadia, Information and communication technologies in tourism 2010. springer
[3] http://en.wikipedia.org/wiki/QR_Code , diakses pada tanggal 22 juni 2010 pukul 11.33
[4] http://mobile.kaywa.com/files/kaywa_guide_QR_codes_without_prices.pdf , diakses pada tanggal 22 juni 2010 pukul 11.33



